Langsung ke konten utama

Makna Tengok Kanan Kiri dalam Sholat

Kebersamaan
Berjama'ah melatih umat Islam dalam satu kesatuan sikap dan langkah, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Mereka bergerak secara serempak dalam satu komando seorang imam yang sudah di pilih sendiri secara demokratis. Tidak ada diskriminasi kaya dan miskin, pangkat dan rendahan, semuanya merapat dalam baris yang lurus dan teratur. Tanpa ada bangku, mej, kurisi, meja kembang, dupa maupun kemenyan mereka harus berdiri, membungkuk, duduk dan menyentuhkan dahinya ketanah sendiri-sendirimenyentuhkan dahi ketanah ini sekaligus miniatur kesadaran, bahwa dirinya pasti kembali ketanah mengharap Allah tanpa perantara siapa-siapa. Posisi kepala yang lebih rendah dibanding pantat saat bersujud, sikap hormat dan tundukan total terhadap aturan dzat yang maha kuasa, sekaligus kesadaran murni bahwa sesungguhnya dirinya tidak berarti apa-apa dihadapan dzat itu.

Pada akhir sholat yang ditutup dengan salam (assalamu'alaikum yang berarti sejahtera buat kita) dengan anjuran menengok kekanan dan kekiri.
menengok ke kanan dan ke kiri ini bukan sekedar slogan kosong, tapi mengandung anjaran untuk mengaplikasikan kesadaran-kesadaran keagamaan dalam amal nyata. Artinya, dengan menengok kanan kiri seolah tuhan berkata kepada kita: "Hai manusia beriman, setelah kamu menyembah kepadaku dengan penuh ketulusan, kini segera sebarkan kesejahteraan (salam) kesekeliling kalian. Tengoklah saudara, teman, tetangga yang ada disebelah kanan kalian. Perhatikan apa kesulitan mereka dan segera bantu mereka semampu-mampu kalian. Selesai kerja sosial untuk tetangga sebelah kanan, ganti tengoklah saudaramu disebelah kiri dan lakukan hal yang sama, seterusnya dan seterusnya. ini semua merupakan pendidikam humanistik yang sangat mengagumkan.
Kepemimpinan
Dalam berjama'ah seorang imam harus terlebih dahulu memberi contoh dan tindakan yang nyata kepada para makmumnya. Pemimpin jama'ah itu tidak boleh mengintruksikan gerakan-gerakan solat dengan komando murni tanpa gerakan. Misalnya imam hanya teriak-teriak saja: "Takbir dimulai ! seperti aba-aba dalam pasukan Hansip. Makmum harus ruku` , sujud ! dan seterusnya". Tidak seperti itu. Seorang imam harus memberi contoh dalam gerakan nyata.
Islam memang tidak menyukai teori inspekturasi yang main tuding dan teriak-teriak doang, atau pemimpin yang ada dibelakang meja. Dimana pemimpin berlaku seperti para inspektur upacara atau komando barisan atau hanya berteriak: "Siap, grak!" tetapi dirinya sendiri tidak siap. itulah sebabnya, maka nabi Muhammad SAW. Tidak pernah mengajarkan solat secara teori atau solat-solatan. Nabi memberi petunjuk langsung dalam gerak dan sahabat segera memperhatikan gerakan itu, kemudian menirukan. itulah sabda beliau, "solatlah seperti kalian melihat saya solat".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Missionaris VS Sufi Soal Berdakwah

أَتَأمُرونَ النّاسَ بِالبِرِّ وَتَنسَونَ أَنفُسَكُم وَأَنتُم تَتلونَ الكِتٰبَ أَفَلا تَعقِلونَ Hanya bicara tak mengamalkan " Mengapa kamu sekalian memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan, sedangkan kalian sendiri tidak melakukan, padahal kalian membaca isi Al-Kitab. Apakah kalian tidak menngunakan akal?" (al-Baqoroh:44) Munasabah Bukan main hebatnya keterkaitan ayat ini dengan perintah berjama'ah pada ayat sebelumnya. Jama'ah yang mengandung kebersamaan dan non inspekturatif itu mendidik pemimpin agar beramal bersama-sama yang dipimpin. Pemimpin yang biasa duduk dibelakang meja dengan kebiasaan memainkan jari telunjuk, adalah tipe pemimpin yang tidak landing di hati rakyat. Kini kita lihat, kecaman Allah terhadap elit agama Yahudi karena kebiasaan mereka yang hanya memerintahkan rakyat berbuat baik. Sedangkan mereka sendiri tidak melakukan. Para elit itu sesungguhnya mengerti isi kandungan kitab taurat yang memerintahkan agar mereka juga berbuat baik dengan ora...

Biografi Dr. Quroish Shihab

Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil "nyantri" di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah. Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-I 'jaz Al-Tasyri'iy li Al-Qur an Al-Karim. Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di lua...